Tak mudah menjadi pemimpin yang baik. Begitu kata Gubernur
DKI Jakarta Joko Widodo. Dia beralasan ada kriteria baru yang berbeda dan harus
dipenuhi. "Salah satunya, pemimpin sakarang harus bersikap lebih
horizontal kepada rakyat dan bawahannya dibanding bersikap vertikal,"ujar
Jokowi saat kuliah tentang kepemimpinan di kantor pusat PGN (Perusahaan Gas
Negara), Gajah Mada, Jakarta Pusat.
Bersikap horizontal yang dimaksud Jokowi adalah mau mendekati
masyarakat dan membangun komunikasi yang sejajar, bukan top-down (vertikal).
Pemimpin juga harus mau mendekati masalah untuk dipelajari, bukan
menjauhinya.
Jokowi berkata, sikap horizontal menjadi salah satu kriteria paling sering dilupakan oleh pemimpin sekarang. Kebanyakan pemimpin atau pejabat cenderung bersikap eksklusif. Alhasil, kedekatan dengan masyarakat atau tempat masalah bersumber tak terbentuk.
"Kalau korporasi, pemimpin atau pejabat, masih bertahan
dengan model vertikal, saya jamin masa kepemimpinannya tak akan bertahan
lama,"ujar Jokowi. Ia mencontohkan jatuhnya Mubarak atau Morsi di Mesir.
Tak cuma sikap horizontal saja. Jokowi menganggap inti dari
pemimpin yang baik adalah mampu mendengar keluhan masyarakat. Usai mendengarkan
masyarakat, seorang pemimpin harus mampu mendekatkan masyarakat, sedekat
mungkin dengan harapannya.
Terakhir, Jokowi berkata, blusukan merupakan cara dia untuk
bersikap horizontal. Di situlah, kata Jokowi, dia mendapat gambaran rill
masyarakat dan mengerahkan bawahannya untuk mencari solusi. "Saya di
kantor itu paling cuman tanda tangan dokuman-dokumen doank,"kata dia
terkekeh.
Sumber : www.tempo.co
No comments:
Post a Comment